Kamis, 13 Desember 2012

Usia Emas ( The Golden Ages Part 2 )


Berkaitan dengan perkembangan keagamaan, bayi yang baru lahir sebenarnya sudah mempunyai instink keagamaan. Namun pada tahap ini belum terlihat adanya tindak keagamaan pada anak, karena fungsi kejiwaan yang menopang berfungsinya instink itu belum sempurna. Karenanya, nilai-nilai keagamaan perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini dengan cara memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak.
Selanjutnya adalah perkembangan sosial-emosional, perkembangan sosial meliputi dua aspek, yaitu kompetensi sosial yang menggambarkan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya secara efektif, dan tanggung jawab sosial yang ditunjukkan oleh komitmen anak terhadap tugas-tugasnya, dan menghargai perbedaan individual, serta memperhatikan lingkungannya. Sedangkan perkembangan emosional anak merupakan sesuatu yang penting, bahkan lebih penting dari perkembangan kognitifnya. Menurut Daniel Goleman, kecerdasan intelektual (intellectual intelligence) tidak akan dapat bekerja dengan baik tanpa kecerdasan emosional (emotional intelligence). Kemampuan yang ingin dicapai dalam aspek ini adalah kemampuan mengenal lingkungan alam, sosial, peranan masyarakat, menghargai keragaman sosial dan budaya, serta mampu mengembangkan konsep diri, seperti sikap positif terhadap belajar, kontrol diri, dan perasaan terhadap keinginan untuk memiliki.
Seni dan kreatifitas adalah bagian dari perkembangan anak berikutnya. Kreatifitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu hal yang baru, baik berupa gagasan ataupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Perilaku yang mencerminkan kratifitas alamiah pada anak usia dini adalah rasa ingin tahunya yang besar, suka bertanya, spontan dalam menyatakan perasaan dan pikirannya, suka berpetualang, ingin mendapatkan pengalaman baru, suka bereksperimen, membongkar-bongkar mainan, dan ingin mencoba hal-hal baru serta memiliki daya imajinasi yang tinggi. Kreatifitas banyak dipengaruhi oleh factor pola asuh dan lingkungan. Pola asuh yang baik dan  lingkungan yang mendukung akan sangat memungkinkan anak untuk mengembangkan dan melejitkan potensi kreatifitas yang dimilikinya. Sebagai contoh orang tua yang membiasakan anaknya untuk berdiskusi dalam mengambil suatu keputusan maka anak tersebut akan belajar berpendapat dan dapat mengembangkan daya pikirnya. Demikian juga orang tua yang memberikan kebebasan terhadap apa yang diinginkan anak, misalnya anak suka dengan melukis daripada bermain musik, ketika orang tua mampu memfasilitasi kegiatan ini, maka tidak menutup kemungkinan anak akan memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melukis.
Uraian dan gambaran di atas, dapat kita lihat bahwa usia lahir sampai memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan seoang anak, dan akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang paling tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosial- emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai keagamaan. Oleh karena itu, masa emas ini hanya dapat dilalui anak sekali seumur hidup dan tidak dapat tergantikan lagi apabila sudah terlewati.
Dengan demikian orang tua perlu memberikan rangsangan yang positif terhadap proses tumbuh kembang anak pada masa keemasan ini. Rangsangan yang diberikan tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tahapan usia perkembangannya, utamanya adalah melalui kegiatan bermain, karena pada tahapan usia ini adalah usia anak untuk bermain. Pelajaran atau segala sesuatu yang akan disampaikan kepada anak, dapat diberikan dengan cara-cara yang menyenangkan, karena dengan penyampaian yang menyenangakan anak akan mudah tertarik untuk mau mempelajarinya lebih lanjut, tanpa merasa dipaksa. Upaya  pengembangan segala potensi yang telah dimiliki oleh anak perlu dimulai semenjak usia dini sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar