Para akademisi dan ahli
psikologi sepakat bahwa masa pertumbuhan anak usia 0-5 tahun sering disebut dengan masa emas (golden age). Karena masa ini merupakan masa gemilang yang mencakup
ruang intelektual, emosi, spiritual, dan motorik anak. Dan perkembanhan
intelegensi anak mencapai 50% berlangsung pada usia 1-4 tahun, dan mencapai 80%
pada usia 8 tahun hingga mencapai 100% terjadi pada usia 18 tahun.
Anak yang dilahirkan masih polos sehingga dapat diibaratkan seperti
kertas yang masih putih bersih, dan masih sangat mudah untuk menerima dan
merekam pengaruh dari lingkungan di luar dirinya. Oleh karena itu, orang tua dan lingkungan di mana
anak tersebut tinggal akan sangat mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Sehingga
golden age merupakan masa di mana
anak perlu mendapakan stimulasi untuk membentuk dasar atau pondasi bagi
perkembangan dan pembentukan struktur otak yang paling pesat. Hal tersebut dapat
dibuktikan dengan daya serap anak yang sangat cepat dan baik terhadap setiap
rangsangan yang diterima, anak dengan mudah merekamnya.
Fase golden age ini merupakan fase pertumbuhan dan perkembangan otak
anak yang paling penting. Pada masa ini, otak mengalami proses tumbuh kembang yang
cepat dan kritis. Kebutuhan nutrisi juga sangat diperlukan untuk memaksimalkan
pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia ini. Karena gizi dan stimulus atau
rangsangan adalah hal terpenting dalam perkembangan otak anak. Untuk itu hal
pertama yang perlu untuk dilakukan adalah dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Pemberian
stimulus, baik stimulus yang bersifat motorik maupun psikis. Sehingga
diperlukan suatu pola asuh yang tepat untuk membentuk pola pikir, emosi dan
kepribadian anak seperti menjadi orang tua yang dapat dijadikan teladan bagi
anak, memberikan pendampingan pada anak saat menyaksikan tayangan televise, dan
memberikan fasilitas belajar atau bacaan yang mendidik, agar anak-anak dapat
tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam
kehidupan manusia, yang dimulai sejak dalam kandungan sampai akhir hayat. Usia
lahir sampai memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa
kritis dalam tahap kehidupan, yang akan menentukan perkembangan anak
selanjutnya. Anak akan mengalami berbagai perkembangan yang terjadi di dalam
hidupnya.
Anak akan mengalami perkembangan fisik, perkembangan fisik anak secara
langsung akan menentukan ketrampilan anak dalam bergerak, sementara secara
tidak langsung, perkembangan fisik anak akan mempengaruhi pandangan anak
terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Perkembangan motorik anak mencakup motorik kasar (gross motor skills) dan motorik halus (fine motor skills). Perkembangan motorik
kasar diperlukan untuk ketrampilan menggerakkan dan menyeimbangkan tubuh
seperti melompat, meloncat dan berlari. Sementara perkembangan motorik halus
berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang lebih spesifik dan
membutuhkan ketrampilan, seperti menulis, melipat, merangkai, menggunting,
mengancing baju.
Kognitif anak juga mulai
berkembang, perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak
berkembang dan berfungsi sehingga dapat berfikir. Setiap anak memiliki pola
perkembangan kognitif yang sama. Perkembangan kognitif ini meliputi empat
tahapan. Pertama, tahap sensori
motorik pada usia 0-2 tahun, di mana intelegensi anak baru tampak dalam bentuk
aktivitas motorik sebagai reaksi stimuli sensorik. Kedua, tahap pra operasional pada usia 2-7 tahun, yang dimulai
denngan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolik, imitasi serta
bayangan dalam mental dan bersifat egosentris. Ketiga, tahap konkret operasional pada usia 7-11 tahun, cara
berfikir anak kurang egosentris, aspek dinamis dalam perubahan situasi sudah
diperhatikan, analisis logis dalam situasi konkret. Keempat, tahap formal operasional pada usia 11 tahun ke atas, yang
ditandai oleh berfikir operasional formal dan mempunyai dua sifat penting,
yaitu deduktif hipotesis dan kombinatoris. Adapun kemampuan kognitif yang dapat
dikuasai anak usia 3-4 tahun meliputi kemampuan berpikir logis, kritis, memberi
alasan, belajar memecahkan masalahnya sendiri, dan menemukah hubungan sebab
akibat.
Perkembangan selanjutnya
adalah perkembangan bahasa, kebanyakan anak memulai perkembangan bahasanya
dengan menangis untuk mengekspresikan reaksinya terhadap bermacam-macam
stimulus. Setelah itu anak mulai belajar kalimat dengan satu kata seperti mama,
dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak, maka perkembangan
bahasapun berperan sebagai ungakapan pikiran anak.
Perkembangan moral dan
nilai-nilai agama adalah perkembangan selanjutnya. Berkaitan dengan
perkembangan moral, terutama anak usia 2-8 tahun, penalaran moral masih
dikendalikan oleh factor-faktor yang berpengaruh di luar diri anak, seperti
adanya pemberian hadiah dan sangsi yang diterima oleh sang anak (reward and punishment). Anak-anak masih
mudah untuk dibentuk, ia akan menurut apabila kita perintahkan sesuatu, apa
yang dianggap benar oleh anak adalah apa yang dirasakannya benar dan dapat
menghasilkan hadiah. Untuk anak usia 9-13 tahun, anak akan mentaati
standar-standar tertentu, seperti menghargai kebenaran, kepedulian dan
kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral, tetapi mereka
tidak mentaati standar-standar orang lain seperti orang tua, atau aturan-aturan
masyarakat. Pada usia 13 tahun, ke atas, anak mengenal tindakan-tindakan moral
alternatif, menjajaki pilihan-pilihan dan kemudian memutuskan kode moral pribadi.
Pada masa ini diharapkan anak sudah dapat membentuk keyakinan sendiri, dapat
menerima bahwa orang lain mempunyai keyakinan yang berbeda dengannya dan ia
tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain.