Kamis, 07 Februari 2013

AWESOME MAMA...(melo dengan puisi dulu ya)

Di saat lelahku menjalani hari..
berkutat dengan buku dan laptop..
kutimbang dan kurasa apa arti dari menjadi ibu

dalam lelahnya raga..ada secercah asa
untuk terus berjuang merenda hari untuk buah hatiku
tulang-tulang yang telah kepayahan
seakan menyatu dan menguat kembali
melihat senyum buah hatiku
dan menerima ucapan "awesome mama..i miss u good mama.."

ucapan yang selalu membangkitkan semangat
menyadarkan aku bahwa aku adalah ibu..
and...thaks a lot awesome papa..

Jumat, 28 Desember 2012

EMPAT KATA AJAIB UNTUK ANAK

Mengajarkan akhlak pada anak usia dini dapat kita lakukan melalui kata ajaib seperti di bawah ini, sehingga diharapkan anak dapat belajar dan berakhlak santun.

a.       Permisi. Kata permisi mengajarkan anak untuk menghargai keberadaan orang lain yang ada di dekatnya, sehingga orang lain tersebut mau untuk memperhatikan kita, dan rela hati terganggu sejenak oleh kita apabila kita mengawalinya dengan kata-kata permisi.
b.      Terimakasih. Kata ajaib yang kedua adalah ucapan terimakasih, kata-kata ini merupakan penghargaan kepada orang lain sehingga seseorang lain tersebut akan merasa nyaman dan senang hati telah memberikan bantuannya. Di sini anak dikenalkan dengan arti dari sebuah penghargaan. Sekecil apapun bantuan atau kontribusi yang diberikan kepada kita jangan lupa untuk mengucapkan terimakasih.
c.       Maaf. Kata ajaib selanjutnya untuk anak adalah kata maaf. Dengan kata maaf ini kita dapat mengajarkan pada anak tentang perbuatan menyenangkan dan tidak menyenangkan kepada orang lain, anak mulai dikenalkan konsep benar dan salah. Anak juga mulai diajarkan untuk tahu bahwa kesalahan yang dilakukannya atau perbuatan tidak menyenangkan yang diperbuatnya kepada orang lain dapat membuat orang lain sedih. Untuk itu mereka harus mau meminta maaf dan tidak membuat temannya sedih lagi.
d.      Tolong. Kata ajaib yang keempat ini sangat penting diajarkan kepada anak karena kehidupan kita sehari-hari sering berinteraksi dengan orang lain dan secara tidak langsung selalu membutuhkan orang lain. Alangkah lebih baiknya apabila kita meminta bantuan kepada oranglain selalu kita awali dengan kata tolong, sehingga orang lain tersebut mau membantu kita dengan tidak merasa disuruh. Orang lain mau membantu kita dengan senang hati karena meskipun sebenarnya mereka disuruh tetapi orang lain tersebut merasa perlu membantu karena ia dibutuhkan dan dihargai dengan kata tolong.

Jumat, 14 Desember 2012

Perkembangan Emosi Anak Usia Dini 1


Studi mengenai emosi saat ini tidak dapat mengesampingkan peran dari Daniel Goleman. Melalui bukunya Emotional Intellegence. Goleman mencoba menyatakan bahwa unsur emosi merupakan faktor yang turut berperan dalam keberhasilan seseorang. Menurut goleman, emosi mengandung pengertian sebagai:[1]
  1. kemampuan seseorang mengenali dirinya sendiri: hal ini terutama berhubungan dengan kesadaran diri. Menyadari suatu perasaan pada saat terjadi, adalah kunci kecerdasan emosi. Kesadaran diri berarti mengetahui baik suasana hati seseorang maupun pemikiran seseorang tentang suasana hatinya.
  2. kemampuan mengelola suasana hati: Hal ini berhubungan dengan mengelola emosi itu sendiri, dengan menangani perasaan agar tersalurkan dengan wajar sehingga merupakan kemampuan yang membangun kesadaran diri.
  3. kemampuan memotivasi diri sendiri: Hal ini berhubungan dengan kemampuan mengatur emosi, untuk mencapai suatu tujuan yang sangat dibutuhkan untuk memberikan perhatian, untuk motivasi dan penguasaan diri dan kreatifitas.
  4. kemampuan mengendalikan nafsu: Hal ini berhubungan dengan memunculkan perasaan empati atau respek, atau penghargaan terhadap orang lain.
  5. kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Emosi juga dapat diartikan sebagai perasaan atau afeksi yang melibatkan perpaduan antara gejolak fisiologis dan perilaku yang terlihat.[2] Emosi dapat juga disebut sebagai ungkapan perasaan seseorang. Emosi tidak hanya berkonotasi negatif, tetapi hal-hal yang positif dan berhubungan dengan perasaan juga dapat pula dikatakan sebagai emosi, sehingga emosi tidak selalu identik dengan kemarahan dan sikap negatif seseorang. Rasa senang, bahagia, pengertian, penyesalan, rasa bersalah, empati, dan sedihpun merupakan bagian dari  ungkapan atau luapan emosi seseorang.


[1] Lusi Nuryanti, Psikologi Anak (Jakarta: PT Indeks, 2008), hlm. 42.
[2] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 56.

Kamis, 13 Desember 2012

Usia Emas ( The Golden Ages Part 2 )


Berkaitan dengan perkembangan keagamaan, bayi yang baru lahir sebenarnya sudah mempunyai instink keagamaan. Namun pada tahap ini belum terlihat adanya tindak keagamaan pada anak, karena fungsi kejiwaan yang menopang berfungsinya instink itu belum sempurna. Karenanya, nilai-nilai keagamaan perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini dengan cara memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak.
Selanjutnya adalah perkembangan sosial-emosional, perkembangan sosial meliputi dua aspek, yaitu kompetensi sosial yang menggambarkan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya secara efektif, dan tanggung jawab sosial yang ditunjukkan oleh komitmen anak terhadap tugas-tugasnya, dan menghargai perbedaan individual, serta memperhatikan lingkungannya. Sedangkan perkembangan emosional anak merupakan sesuatu yang penting, bahkan lebih penting dari perkembangan kognitifnya. Menurut Daniel Goleman, kecerdasan intelektual (intellectual intelligence) tidak akan dapat bekerja dengan baik tanpa kecerdasan emosional (emotional intelligence). Kemampuan yang ingin dicapai dalam aspek ini adalah kemampuan mengenal lingkungan alam, sosial, peranan masyarakat, menghargai keragaman sosial dan budaya, serta mampu mengembangkan konsep diri, seperti sikap positif terhadap belajar, kontrol diri, dan perasaan terhadap keinginan untuk memiliki.
Seni dan kreatifitas adalah bagian dari perkembangan anak berikutnya. Kreatifitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu hal yang baru, baik berupa gagasan ataupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Perilaku yang mencerminkan kratifitas alamiah pada anak usia dini adalah rasa ingin tahunya yang besar, suka bertanya, spontan dalam menyatakan perasaan dan pikirannya, suka berpetualang, ingin mendapatkan pengalaman baru, suka bereksperimen, membongkar-bongkar mainan, dan ingin mencoba hal-hal baru serta memiliki daya imajinasi yang tinggi. Kreatifitas banyak dipengaruhi oleh factor pola asuh dan lingkungan. Pola asuh yang baik dan  lingkungan yang mendukung akan sangat memungkinkan anak untuk mengembangkan dan melejitkan potensi kreatifitas yang dimilikinya. Sebagai contoh orang tua yang membiasakan anaknya untuk berdiskusi dalam mengambil suatu keputusan maka anak tersebut akan belajar berpendapat dan dapat mengembangkan daya pikirnya. Demikian juga orang tua yang memberikan kebebasan terhadap apa yang diinginkan anak, misalnya anak suka dengan melukis daripada bermain musik, ketika orang tua mampu memfasilitasi kegiatan ini, maka tidak menutup kemungkinan anak akan memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melukis.
Uraian dan gambaran di atas, dapat kita lihat bahwa usia lahir sampai memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan seoang anak, dan akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang paling tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosial- emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai keagamaan. Oleh karena itu, masa emas ini hanya dapat dilalui anak sekali seumur hidup dan tidak dapat tergantikan lagi apabila sudah terlewati.
Dengan demikian orang tua perlu memberikan rangsangan yang positif terhadap proses tumbuh kembang anak pada masa keemasan ini. Rangsangan yang diberikan tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan anak dan tahapan usia perkembangannya, utamanya adalah melalui kegiatan bermain, karena pada tahapan usia ini adalah usia anak untuk bermain. Pelajaran atau segala sesuatu yang akan disampaikan kepada anak, dapat diberikan dengan cara-cara yang menyenangkan, karena dengan penyampaian yang menyenangakan anak akan mudah tertarik untuk mau mempelajarinya lebih lanjut, tanpa merasa dipaksa. Upaya  pengembangan segala potensi yang telah dimiliki oleh anak perlu dimulai semenjak usia dini sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal.

Minggu, 09 Desember 2012

USIA EMAS (The Golden Ages Part 1)


Para akademisi dan ahli psikologi sepakat bahwa masa pertumbuhan anak usia 0-5 tahun sering disebut dengan masa emas (golden age). Karena masa ini merupakan masa gemilang yang mencakup ruang intelektual, emosi, spiritual, dan motorik anak. Dan perkembanhan intelegensi anak mencapai 50% berlangsung pada usia 1-4 tahun, dan mencapai 80% pada usia 8 tahun hingga mencapai 100% terjadi pada usia 18 tahun.
Anak yang dilahirkan masih polos sehingga dapat diibaratkan seperti kertas yang masih putih bersih, dan masih sangat mudah untuk menerima dan merekam pengaruh dari lingkungan di luar dirinya. Oleh karena itu, orang tua dan lingkungan di mana anak tersebut tinggal akan sangat mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Sehingga golden age merupakan masa di mana anak perlu mendapakan stimulasi untuk membentuk dasar atau pondasi bagi perkembangan dan pembentukan struktur otak yang paling pesat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan daya serap anak yang sangat cepat dan baik terhadap setiap rangsangan yang diterima, anak dengan mudah merekamnya.
Fase golden age ini merupakan fase pertumbuhan dan perkembangan otak anak yang paling penting. Pada masa ini, otak mengalami proses tumbuh kembang yang cepat dan kritis. Kebutuhan nutrisi juga sangat diperlukan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia ini. Karena gizi dan stimulus atau rangsangan adalah hal terpenting dalam perkembangan otak anak. Untuk itu hal pertama yang perlu untuk dilakukan adalah dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Pemberian stimulus, baik stimulus yang bersifat motorik maupun psikis. Sehingga diperlukan suatu pola asuh yang tepat untuk membentuk pola pikir, emosi dan kepribadian anak seperti menjadi orang tua yang dapat dijadikan teladan bagi anak, memberikan pendampingan pada anak saat menyaksikan tayangan televise, dan memberikan fasilitas belajar atau bacaan yang mendidik, agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam kehidupan manusia, yang dimulai sejak dalam kandungan sampai akhir hayat. Usia lahir sampai memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Anak akan mengalami berbagai perkembangan yang terjadi di dalam hidupnya.
Anak akan mengalami perkembangan fisik, perkembangan fisik anak secara langsung akan menentukan ketrampilan anak dalam bergerak, sementara secara tidak langsung, perkembangan fisik anak akan mempengaruhi pandangan anak terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Perkembangan motorik anak mencakup motorik kasar (gross motor skills) dan motorik halus (fine motor skills). Perkembangan motorik kasar diperlukan untuk ketrampilan menggerakkan dan menyeimbangkan tubuh seperti melompat, meloncat dan berlari. Sementara perkembangan motorik halus berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang lebih spesifik dan membutuhkan ketrampilan, seperti menulis, melipat, merangkai, menggunting, mengancing baju.
Kognitif anak juga mulai berkembang, perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berfikir. Setiap anak memiliki pola perkembangan kognitif yang sama. Perkembangan kognitif ini meliputi empat tahapan. Pertama, tahap sensori motorik pada usia 0-2 tahun, di mana intelegensi anak baru tampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimuli sensorik. Kedua, tahap pra operasional pada usia 2-7 tahun, yang dimulai denngan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolik, imitasi serta bayangan dalam mental dan bersifat egosentris. Ketiga, tahap konkret operasional pada usia 7-11 tahun, cara berfikir anak kurang egosentris, aspek dinamis dalam perubahan situasi sudah diperhatikan, analisis logis dalam situasi konkret. Keempat, tahap formal operasional pada usia 11 tahun ke atas, yang ditandai oleh berfikir operasional formal dan mempunyai dua sifat penting, yaitu deduktif hipotesis dan kombinatoris. Adapun kemampuan kognitif yang dapat dikuasai anak usia 3-4 tahun meliputi kemampuan berpikir logis, kritis, memberi alasan, belajar memecahkan masalahnya sendiri, dan menemukah hubungan sebab akibat.
Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan bahasa, kebanyakan anak memulai perkembangan bahasanya dengan menangis untuk mengekspresikan reaksinya terhadap bermacam-macam stimulus. Setelah itu anak mulai belajar kalimat dengan satu kata seperti mama, dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak, maka perkembangan bahasapun berperan sebagai ungakapan pikiran anak.
Perkembangan moral dan nilai-nilai agama adalah perkembangan selanjutnya. Berkaitan dengan perkembangan moral, terutama anak usia 2-8 tahun, penalaran moral masih dikendalikan oleh factor-faktor yang berpengaruh di luar diri anak, seperti adanya pemberian hadiah dan sangsi yang diterima oleh sang anak (reward and punishment). Anak-anak masih mudah untuk dibentuk, ia akan menurut apabila kita perintahkan sesuatu, apa yang dianggap benar oleh anak adalah apa yang dirasakannya benar dan dapat menghasilkan hadiah. Untuk anak usia 9-13 tahun, anak akan mentaati standar-standar tertentu, seperti menghargai kebenaran, kepedulian dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar orang lain seperti orang tua, atau aturan-aturan masyarakat. Pada usia 13 tahun, ke atas, anak mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan dan kemudian memutuskan kode moral pribadi. Pada masa ini diharapkan anak sudah dapat membentuk keyakinan sendiri, dapat menerima bahwa orang lain mempunyai keyakinan yang berbeda dengannya dan ia tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Rabu, 05 Desember 2012

Masa Oral (Move On Siluet Djingga)

Halo..halo.. lama sekali tidak menulis...Move On..Siluet Djingga sudah semakin pintar saja. Belajar duduk, berguling, dan berceloteh. Seminggu yang lalu Siluet Djingga diare. Uh sedihnya.., satu sisi aku senang sekali, anakku sudah semakin pintar. Dia memasuki masa oral dan memasukkan segala macam benda yang dipegangnya ke dalam mulut. Makanan, mainan, dan apa saja semua masuk mulut. "Pa..pa..pa.." Siluet Djingga menyapaku pagi ini... (to be continue ya, rapat dulu)

Sabtu, 23 Juni 2012

Antara Karir dan Anakku

wanita bekerja...
jika kita diberi pilihan manakah yang akan kita pilih, keluarga atau pekerjaan?
dengan menutup mata biasanya kita akan segera memilih keluarga. Tetapi
bagi kita yang sudah terlanjur bekerja sulit rasanya menjawab dengan rasa mantap
dan yakin bahwa kita memilih keluarga.
saat ini aku sedang dalam perjalanan membuat pilihan...
dan ingin rasanya aku dengan mantap berteriak dan berkata
anakku...engkaulah karir dan masa depanku...