Minggu, 09 Desember 2012

USIA EMAS (The Golden Ages Part 1)


Para akademisi dan ahli psikologi sepakat bahwa masa pertumbuhan anak usia 0-5 tahun sering disebut dengan masa emas (golden age). Karena masa ini merupakan masa gemilang yang mencakup ruang intelektual, emosi, spiritual, dan motorik anak. Dan perkembanhan intelegensi anak mencapai 50% berlangsung pada usia 1-4 tahun, dan mencapai 80% pada usia 8 tahun hingga mencapai 100% terjadi pada usia 18 tahun.
Anak yang dilahirkan masih polos sehingga dapat diibaratkan seperti kertas yang masih putih bersih, dan masih sangat mudah untuk menerima dan merekam pengaruh dari lingkungan di luar dirinya. Oleh karena itu, orang tua dan lingkungan di mana anak tersebut tinggal akan sangat mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Sehingga golden age merupakan masa di mana anak perlu mendapakan stimulasi untuk membentuk dasar atau pondasi bagi perkembangan dan pembentukan struktur otak yang paling pesat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan daya serap anak yang sangat cepat dan baik terhadap setiap rangsangan yang diterima, anak dengan mudah merekamnya.
Fase golden age ini merupakan fase pertumbuhan dan perkembangan otak anak yang paling penting. Pada masa ini, otak mengalami proses tumbuh kembang yang cepat dan kritis. Kebutuhan nutrisi juga sangat diperlukan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia ini. Karena gizi dan stimulus atau rangsangan adalah hal terpenting dalam perkembangan otak anak. Untuk itu hal pertama yang perlu untuk dilakukan adalah dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Pemberian stimulus, baik stimulus yang bersifat motorik maupun psikis. Sehingga diperlukan suatu pola asuh yang tepat untuk membentuk pola pikir, emosi dan kepribadian anak seperti menjadi orang tua yang dapat dijadikan teladan bagi anak, memberikan pendampingan pada anak saat menyaksikan tayangan televise, dan memberikan fasilitas belajar atau bacaan yang mendidik, agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam kehidupan manusia, yang dimulai sejak dalam kandungan sampai akhir hayat. Usia lahir sampai memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Anak akan mengalami berbagai perkembangan yang terjadi di dalam hidupnya.
Anak akan mengalami perkembangan fisik, perkembangan fisik anak secara langsung akan menentukan ketrampilan anak dalam bergerak, sementara secara tidak langsung, perkembangan fisik anak akan mempengaruhi pandangan anak terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Perkembangan motorik anak mencakup motorik kasar (gross motor skills) dan motorik halus (fine motor skills). Perkembangan motorik kasar diperlukan untuk ketrampilan menggerakkan dan menyeimbangkan tubuh seperti melompat, meloncat dan berlari. Sementara perkembangan motorik halus berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang lebih spesifik dan membutuhkan ketrampilan, seperti menulis, melipat, merangkai, menggunting, mengancing baju.
Kognitif anak juga mulai berkembang, perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berfikir. Setiap anak memiliki pola perkembangan kognitif yang sama. Perkembangan kognitif ini meliputi empat tahapan. Pertama, tahap sensori motorik pada usia 0-2 tahun, di mana intelegensi anak baru tampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimuli sensorik. Kedua, tahap pra operasional pada usia 2-7 tahun, yang dimulai denngan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolik, imitasi serta bayangan dalam mental dan bersifat egosentris. Ketiga, tahap konkret operasional pada usia 7-11 tahun, cara berfikir anak kurang egosentris, aspek dinamis dalam perubahan situasi sudah diperhatikan, analisis logis dalam situasi konkret. Keempat, tahap formal operasional pada usia 11 tahun ke atas, yang ditandai oleh berfikir operasional formal dan mempunyai dua sifat penting, yaitu deduktif hipotesis dan kombinatoris. Adapun kemampuan kognitif yang dapat dikuasai anak usia 3-4 tahun meliputi kemampuan berpikir logis, kritis, memberi alasan, belajar memecahkan masalahnya sendiri, dan menemukah hubungan sebab akibat.
Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan bahasa, kebanyakan anak memulai perkembangan bahasanya dengan menangis untuk mengekspresikan reaksinya terhadap bermacam-macam stimulus. Setelah itu anak mulai belajar kalimat dengan satu kata seperti mama, dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak, maka perkembangan bahasapun berperan sebagai ungakapan pikiran anak.
Perkembangan moral dan nilai-nilai agama adalah perkembangan selanjutnya. Berkaitan dengan perkembangan moral, terutama anak usia 2-8 tahun, penalaran moral masih dikendalikan oleh factor-faktor yang berpengaruh di luar diri anak, seperti adanya pemberian hadiah dan sangsi yang diterima oleh sang anak (reward and punishment). Anak-anak masih mudah untuk dibentuk, ia akan menurut apabila kita perintahkan sesuatu, apa yang dianggap benar oleh anak adalah apa yang dirasakannya benar dan dapat menghasilkan hadiah. Untuk anak usia 9-13 tahun, anak akan mentaati standar-standar tertentu, seperti menghargai kebenaran, kepedulian dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar orang lain seperti orang tua, atau aturan-aturan masyarakat. Pada usia 13 tahun, ke atas, anak mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan dan kemudian memutuskan kode moral pribadi. Pada masa ini diharapkan anak sudah dapat membentuk keyakinan sendiri, dapat menerima bahwa orang lain mempunyai keyakinan yang berbeda dengannya dan ia tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar